Akhirnya cinta menentukan takdir bagi kami untuk melangsungkan pernikahan pada tanggal 29 Desember.
Tiga tahun mengenal Elisa Kurniawati, bukan waktu singkat tapi juga bukan waktu lama untuk merajut pondasi supaya dapat berjalan dalam rel yang sama dengan tujuan yang sama, tujuan satu entah apa itu.
selama kami masih mencari, tak akan usai cerita ini.
Selasa, 18 Desember 2018
Selasa, 23 Oktober 2018
Berhenti
Tanggal 14 September 2018 saya resmi berhenti dari pekerjaan saya. Banyak hal yang dipelajari, tapi mungkin akan lebih banyak pembelajaran yang akan saya dapat di tempat lain dengan undur dirinya saya.
Setelah rekan kerja saya mengetahui saya mengundurkan diri, ternyata mereka juga turut membuat surat pengunduran diri.
kini, salah satu rekan kerja saya sudah mendapat pekerjaan di daerah Sleman. Semoga disana lancar ya..
yang satunya sampai berita ini diturunkan belum ada khabar.
sekian dan terimakasih. :D
Setelah rekan kerja saya mengetahui saya mengundurkan diri, ternyata mereka juga turut membuat surat pengunduran diri.
kini, salah satu rekan kerja saya sudah mendapat pekerjaan di daerah Sleman. Semoga disana lancar ya..
yang satunya sampai berita ini diturunkan belum ada khabar.
sekian dan terimakasih. :D
Email Baru
Ketika akan lulus dari kuliah, seorang dosen pmbimbing menyarankan untuk meng-upgrade nama alamat emailku minimal mencantumkan namadiri, dan tidak alay. Kedepannya nama emaill ini akan digunakan secara profesional, memudahkan kontak-kontak, pengiriman berkas lewat yang cukup formal pasti akan lewat email.
daaann... dengan berat hati meninggalkan email lama yang begitu bersejarah, saya membuka email baru dengan alamat
Eigner4000@gmail.com
untuk pemindahan keberkasan dan lain lain akan dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,
ttd
Eigner tanpa Endus.
Tetikus baru - Rexus Xierra X2
Hai, hai juga bagiku lama tak jumpa dan lama tak nulis. Kali
ini tulisan mau review mouse, hehe habis beli nih. Yak, siang ini, karena mouse
yang biasa dipakai dibawa ibu ke kantor, dan akhirnya memutuskan untuk beli
mouse baru biar gak hobi rebutan mouse, hehe. Siang-siang pepanas meluncur ke
janti.
Puas dengan performa mouse sebelumnya rexus G5 seharga 85K
tahun 2015 yang hanya memiliki kelemahan terlalu besar digenggaman tanganku. Kali
ini pilihan pada Rexus Xierra - X2 dengan harga 78ribu, karena Cuma bawa uang
100k ke toko, hehe. Sebenarnya dari desain tampilan hati ini terjatuh pada Xierra
X6 tapi ketika di test jari manis nggesek terus di klik kanan mouse. Maka dengan
desian yang mendekati sama, dipinanglah tetikus Xierra X2 ini.
Tanpa basa basi, sampai rumah langsung unboxing yang tidak di video karena belum hobi nge-vlog, hehe. Tampilan
asik, warna abu kalem, terus warna warni lampunya gak menyilaukan seperti seri G5
nah saatnya test performa. Sekali tancap langsung sedih, karena ternyata mouse
ini opticalnya gak bekerja di mousepad selembar kertas putih. Ini langsung
bikin saya sedih karena kebutuhan saya yang sering mobile dan malas membawa
mousepad. Ketika digenggam lama-lama ternyata baru terasa bahwa jarak roda
untuk scrolling terlalu jauh, sehingga untuk scroll keatas jari mati langkah,
meski baru scroll sedikit. Lalu, ternyata dimensinya panjang membuat jari
serasa selonjor, kurang rileks. Oke untuk ukuran jemari saya yang sejengkal
sepanjang 23.5cm mouse Xierra X2 terlalu panjang, dan mouse rexus G5 terlalu
gendut. Oh ya roda scrollingnya ternyata tidak terlalu berasa solid juga, jadi
berasa khawatir tentang keawetannya, tapi ini baru asumsi saja.
Namun di sisi lain, build in kabelnya oke, dengan adanya
lapisan yang “gaming” memberi perlindungan ekstra. Di sisi lain desaiin
tampilannya emang ciamik keren dah!
Ya begitu review saya pada tetikus ber merk Rexus Xierra X2
ini. Siapa tau Anda pas jatuh cinta dg tampilan mouse ini, semoga kekurangan
yang saya rasakan bisa jadi pertimbangan, siapa tau malah di jemari Anda
tetikus ini cocok dan lebih fungsional.
Salam!
Jumat, 14 September 2018
ORIGAMI BURUNG
Di Awal September 2018 ketika beli telur, istri saya minta
untuk beli kertas origami juga. Dia beli dua, satu pak kecil dan satu pak
besar. Katanya untuk bikin origami burung bangau nanti di ikat tali untuk
mainan Elora. Yap! Origami burung bangau yang konon katanya kalau kita bisa tuntas
membuatnya sebanyak 1000 buah maka harapan kita akan satu hal akan terkabul!
Dua hari kemudian saya lihat kertas origami tersebut masih
tergeletak di kursi sejak pulang beli. Lalu saya ambil satu yang besar dan satu
yang kecil untuk saya bikin origami bangau. Lama tidak menyentuh kertas origami
rasanya rumit juga memulai kegiatan ini. Akhirnya jadilah dua buah bangau
mainan dari kertas lipat!.
Sabtu 15 Sepember setelah saya keluar dari kerjaan jumat
hari sebelumnya, saya mencoba membuat satu origami bangau lagi tak sengaja
merenung dan menemukan pemaknaan ini. Untukk membuat origami burung ini langkah
pertama ialah kita harus melipat hampir semua sisi kertas, setelah terlipat
dengan bekas lipatan itu dibentuk formasi awal seperti kuncup teratai, setelah
kuncup terbentuk untuk menjadikan burung kertas ini cenderung mudah.
Secara umum ada tiga langkah pembuatannya, 1. Melipat menyiapkan
jalur 2. Dari lipatan tersebut dibuat formasi awal 3. Finishing. Dari ketiga
langkah itu tetiba saya renungkan, ternyata bisa jadi origami ini begitu
populer karena ketiga langkah tersebut, dan cara memaknainya.
Langkah pertama, melipat, menyiapkan jalur, pada tahap ini
terkesan membosankan. Melipat, membuka lipatan, melipat di sisi lain, dan
berulang, seperti acak tak ada arah tapi berpola. Namun sejak kita memegang
kertas sebenarnya tujuan kita sudah jelas, membuat origami burung! Tapi untuk
itu kita perlu melewati hal ini. Mempersiapkan jalan untuk memudahkan proses
selanjutnya. Mungkin ini hal yang aneh di era instan ini, tapi hasil bagus
konon tidak dari hal yang instan.
Bila di umpamakan, kita akan ke sekolah besok, supaya esok
hari proses kita kesekolah lancar maka kita butuh mempersiapkannya. Misal, di
malam harinya kita siapkan buku pelajaran untuk esok hari, masukkan dalam tas,
sekaligus seragam sekolah yang akan dipakai besok sudah siap untuk dipakai
diletakkan dekat dengan tas. Bisa juga untuk memperlancar proses pergantian
pelajaran di kelas, buku diurutkan sesuai jam pelajaran sehingga lebih efisien.
Dengan begitu esok hari kita lebih mudah dalam mempersiapkan hal untuk
kesekolah.
Langkah kedua ialah, dari lipatan itu, kita membentuk
formasi awal. Ibarat bekas lipatan tadi adalah data dalam penelitian, saat ini
adalah saat untuk meramunya, menggunakan data-data tersebut, memilah mana data
yang dapat digunakan dan data sampah, tidak semua lipatan juga digunakan tapi
lipatan lain sangat memudahkan proses membuat origami ini. Proses ini cenderung
singkat tapi rumit, karena lebih menggunakan strategi, teknik, kebiasaan, dan
pengalaman. Tapi dengan terus menerus diasah hal ini akan lebih mudah semakin
harinya.
Langkah ketiga ialah, finishing, ketika jejek lipatan sudah
ditekuk untuk membentuk formasi awal, maka langkah selanjutnya adalah
menyempurnakannya untuk menjadi, tak banyak hal rumit disini karena pondasi
kita sudah kokoh untuk melanjutkan.
Setelah ketiga langkah itu jadi, tadaaa… selesai… satu, dua
tiga..
Tapi……
Mungkin kita sering abai pada proses, dalam hal lipat
melipat ini adalah proses awal, membentuk garis lipatan. Melipat, dibuka lagi,
dilipat lagi, hal yang monoton, tapi akan berdampak besar pada hasil akhir,
bila kita lipat pada proses yang sangat awal ini tidak presisi, maka hasil
akhir juga tidak akan presisi. Jadi detail, ketekunan dalam berproses di awal,
membuat pondasi, membuat persiapan begitu matang sangat berdampak di hasil
akhir. Maka dari itu, meskipun monoton, membosankan, suatu proses yang panjang
layak untuk ditekuni dan di perhatiak setiap deailnya. Kemampuan untuk setia
dalam setiap proses yang membosankan ternyata sangat berdampak pada hasil
akhir.
Jadi bisa dibayangkan bila proses membuat origami burung ini
diulang begitu banyak, hingga seribu kali, dengan ketelatenan yang begitu
tinggi, sangat mungkin harapan yang ingin dicapai juga dapat terkabul!
Selasa, 08 Mei 2018
Surga dan ruang publik kota.
*) disclaimer: tulisan ini tanpa adanya ilustrasi, ataupun foto seperti tulisan yang lainnya.
..
Selamat pagi, dua hari ini saya bisa bangun pagi, jam setengah tujuh
pagi, maka dari itu perlu saya me-reward diri sendiri. Salah satu reward bagi
diri saya adalah meluangkan waktu untuk menulis.
Kali ini saya menulis tentang Jogja. Banyak yang bilang Jogja itu
ngangenin, tapi itu bagi yang hanya sempat tinggal di jogja beberapa lama, tapi
bagi saya, kadang Jogja itu anugerah, kadang menyebalkan.
Tinggal di jogja itu anugerah, dan menurut Tristan, seorang urban
designer dari Prancis, Jogja itu kota impian bagi urban planner, karena hanya
dengan 15 menit dari pusat kota, bisa menggunakan kereta api mencapai bandara. Kita
bisa parkir di stasiun, bahkan tak perlu parkir, cukup menggunakan transportasi
publik ke stasiun kereta untuk mencapai bandara. Menyebalkannya ialah,
seharusnya kereta dari pusat kota ke bandara ada tiap 15 menit sekali, bukannya
1 jam sekali. Terlalu lama, kata pak prof Tristan.
Ok, karena saya juga jarang ke bandara dan lebih sering bersepeda (motor)
keliling kota, ada dua hal selalu jadi daya tarik saya di kota Yojo ini keika
keliling-keliling kota. Bagaikan lagu
anak jaman dulu yang begitu istimewa, saya pergi ke jantung kota jogja hanya
untuk melihat keramaian yang ada.
Material, pejalan kaki dan
Ranmor.
Setelah jogja mendapatkan dana keistimewaan, salah satu hal istimewa
yang dilakukan adalah mempercantik citra kota, dengan mengganti perkerasan di
simpang 0km jogja (0km suatu kota patokannya adalah kantorpos induk kota-banyak
yang salah sangka karena 0km jogja di situ karena depan kraton) dan perkerasan
jalan di simpang Tugu pal putih Jogja.
Perkerasan yang dipasangkan di persimpangan tersebut adalah batu, bukan
aspal. Sehingga terlihat lebih hangat atmosfir yang disajikan oleh kota ini. Ketika
sekian banyak persen wisatawan domestik di jogja adalah pelajar-mahasiswa yang
dari luar jogja, maka menikmati jogja adalah hal yang wajib. Mereka mengunjungi
titik panas kota untuk menongkrong, selain menongkrong, hal jaman now yang
lakukan ketika wisata adalah menduplikasi citranya dengan kamera di ponselnya
(bukan ha-pe).
Terjadilah silang kepentingan antara wisatawan domestik yang berjalan
meyebrang di persimpangan dengan kendaraan bermotor. Di simpang tugu jogja,
akan sangat tidak harmonis terdengar suara klakson secara periodik menyalak
para pejalan kaki yang me-nengah mendekat ke tugu jogja untuk berfoto dengan
ikon kota jogja tersebut. Menganggap jalan raya juga persimpangan adalah hak
kendaraan bermotor, maka bahasa simbol adalah dengan klakson menyuruh minggir
para pejalan kaki. Bukankah itu bentuk arogansi para pengendara kendaraan
bermotor yang tergesa-gesa kebelet?
Bahkan ketika ada petugas pengaman disana, juga menyarankan dan
mengingatkan para pemburu swafoto untuk minggir mengalah di simpang tersebut. Alhasil,
menurut saya, simpang tugu tersebut jadi tidak terlalu hidup, dan pasti akan
keren bila buanyak manusia berkumpul di tengah untuk mengapresiasi kota ini,
bukannya disarankan minggir untuk mengalah.
Alasan saya sangat personal, tapi apakah bagi pemerintah mengganti
perkerasan di simpang tersebut tidak mempunyai alasan khusus? Meskipun iya,
tanpa alasan khusus yang lebih memanusiakan pejalan kaki, apakah para penguna
jalan raya tidak sampainya berpikir untuk memelankan kendaraaannya? Itu tidak
aspal lagi lho...! ngebut disitu juga gak enak, gemronjal. Apakah pemahaman ini tidak ada? Ataukah karena aspal di
jogja juga sama gemronjalnya dengan jalan perkerasan batu tersebut. Apakah perlu
diberi polisi tidur supaya mempertegas kawasan ini adalah kawasan publik dimana
orang perlu dan dengan senang hati mengapresiasi kota ini.
Bagi saya, sekadar berswafoto di kota jogja ini, dimanapun, maka kota
ini sudah ter-apresiasi oleh seseorang yang melakukannya.
Ruang publik, ruang nongkrong.
Tak jarang nongkrong menghasilkan ide briliant untuk berkarya. Hanya saja,
tak semua orang mempunyai budget yang
selo untuk menyewa tempat nongrong yang berkopi mewah. Banyak juga yang hanya
butuh lokasi nongkrong yang free smoking.
Ada kopi maupun tidak.
Nol kilometer jogja, edisi sebelum tampilan sekarang (8 mei 2018)
banyak pot tanaman, hijau memang, tapi sedikit ruang bisa dipakai untuk
menongkrong. Kini, teman-teman bisa lebih banyak pilihan ruang nongkrong
(lesehan tentunya) di nol km Jogja. Bila dirasa penuh, dan mahal parkirnya,
bisa pindah ke selatan dikit, di alun-alun utara kota jogja. Parkirnya di
pinggir jalan, ilegal memang, tapi sepertinya tidak apa bila sudah malam. Cek saja
bila malam minggu tiba.
Banyak manusia bisa ditampung berarti lebih banyak manusia yang akan
mengapresiasi. Begitu di nol kilometer kota jogja. Tentu dengan persimpangan
bermaterial perkerasan batu. Menambah epic-suasana di sini.
Di cerahnya malam dan terangnya lampu penerangan kota, nol kilometer
jogja merupakan bukti bahwa kota jogja akan lebih banyak membutuhkan
titik-titik ruang publik lain untuk bisa diolah dan di apresiasi. Pendidikan terus
memperbanyak kampus, demi menampung banyak lagi siswa, akan ada banyak lagi
siswa datang ke kota jogja. Tak luput untuk menongkrong.
Bisa dipastikan nongkrong adalah salah satu kebutuhan, biar tidak
dikira kurang piknik (stres kerjaan). Ruang publik di kota salah satu fasilitas
jawabannya. Maka, siapapun desainer atau yang bersedia menyisihkan tanah untuk
dipakai dan diapresiasi menjadi ruang publik dipakai banyak orang untuk
nongkrong secara murah meriah, maka dialah yang empunya sorga. Sekian ribu
manusia akan bisa mendapatkan ketentraman di ruang publik, setiap hari, ataupun
minggunya. Jadi bila ingin lancar masuk surga, bertemanlah dengan urban
desainer, hihihi...
-- ... ---
Apalagi sebentar lagi bulan puasa, sembari menunggu buka, pasti akan
ada banyak acara dan kegiatan di ruang publik. Bertambah pula pahala bagi para
penyedia ruang publik yang dapat diakses siapapun di suatu kota.
Selamat pagi.
Selasa, 20 Februari 2018
Langganan:
Postingan (Atom)



